01 Oktober, 2014

Traditional, Heritage and Contemporary

Metode membangun dinding dalam sepanjang sejarah Indonesia sekarang telah berubah, menyesuaikan dengan bahan baku yang ada supaya lebih ekonomis dalam membangun.

Traditional
Keraton, Yogyakarta 1790
Periode adat tradisional sebelum kolonialisme Belanda pada masing-masing wilayah di Indonesia sudah mengembangkan gaya arsitektur yang jelas. Desain rumah adat tradisional dapat mudah dikenali dari gaya atap rumah mereka. 

Konstruksi dinding mirip dengan frame kayu dan panel kayu atau panel anyaman. 

Sayangnya, dinding kayu yang ringan tersebut tidak dapat bertahan lama dari waktu ke waktu, sehingga banyak rumah adat tradisional yang sudah tidak asli atau bertahan lagi.
Borobadur Temple, Yogyakarta 900

Banyak bangunan penting dibangun dari batu, seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan atau Pura Hindu di Bali. 

Key Joint
Interlocking
Kapur, marmer, granit dan batu keras lainnya dipotong  secara akurat dan diletakkan tanpa celah. Blok  batu tersebut disusun bersama-sama menggunakan sistem ikatan, (inter locking) sehingga mempunyai kekuatan tinggi dan fleksibilitas untuk tahan terhadap gempa yang kuat.



Heritage
Losari Coffee Plantation, Magelang, Jawa Tengah
Periode Kolonial Belanda tahun1600-1942 memperkenalkan bangunan dinding dengan gaya Eropa. Gedung-gedung pemerintah dan pemilik perkebunan yang kaya menggunakan bata dari tanah liat dalam membangun dinding setelah itu dinding diplester kemudian diaci/ skimcoat 

Sistem dinding seperti ini bukan ditemukan oleh orang Romawi, tetapi insinyur mereka lah yang mempelajari bagaimana membangun dinding menggunakan bata. Di Eropa banyak dinding bata Romawi masih berdiri setelah 2.000 tahun. 

Romani Tahun 70. Bata merah, plester dan acian.

Di Indonesia ada juga beberapa bangunan bata yang masih terawat dalam kondisi baik setelah 300 tahun.









Bata Merah, Plester dan Acian dari periode Belanda.
Tahun 1800














Bata Merah dari Periode Romani Tahun 300.










Bata Merah dari Jakarta 2013. Pasangan Bata dengan pasir dan semen.











Contemporary


Tidak banyak yang berubah setelah lebih dari 2.000 tahun sejak Romawi di Eropa membangun tembok batu bata dari tanah liat. Semen diperkenalkan ke perumahan tahun 70- an dan Kolom Praktis tahan gempa diperkenalkan di tahun 80-an. 


Selama hampir 40 tahun terakhir ini kualitas bangunan rumah kita sangat buruk dengan banyak retak, kebocoran dan tidak tahan lama  sebelum jadwal renovasi. 

10 tahun terakhir ada pengenalan generasi baru bahan bangunan dan persyaratan untuk kualitas yang lebih baik dalam membangun. Perubahan ini termasuk:

Dinding Bata Ringan
Mortar untuk Thinbed, Plaster and Acian (skimcoat)
Gypsum Board and GRC Board

Atap baja rindan

Dalam waktu dekat kita akan melihat produk baru lainnya seperti  perekat lantai, waterproofing mortar, kaca dan sistem dinding aluminium sistem dan beton cetak (precast).


Bata Ringan dan pasangan tipis "Thinbed"
Bata Merah dengan pasangan bata.
Plester dan Acian Putih

















“Mortar is changing the quality standard of Indonesian Building”



Some Styles Last Forever


Greek corinthian columns, Roman arches, Saracen ceramic and glass tiling.
Palazzo dei Normanni, Palermo, Italy - 1072


















Greek corinthian columns, Roman arches, Italian blue tile facade.
House in South Jakarta, Indonesia - 2013